Senin, 08 Maret 2010

dilema

menerima order cetakan dari instansi atau lembaga memang menggiurkan, itu kalau dilihat nilai uangnya. Tetapi, kalau hati ini mau jujur, justru mengerikan. Bukan ingin sok suci, tetapi faktanya, instansi/lembaga selalu meminta nota fiktif dan nota kosong di setiap transaksi. Sekuat tenaga kami menghindari menerima order dari mereka. Kami percaya, rizki yang berkah lebih berharga daripada rizki yang banyak. Rizki banyak kalau tidak berkah malah menyakiti kita, contohnya : hati pasti panas melihat tetangga punya barang bagus, berapapun uang yg kita dapat pasti kurang, gampang membelanjakan uang untuk hal yg tidak manfaat dan tidak ingin berbagi rizki. Jika uang itu berkah, biarpun sedikit pasti selalu cukup buat kita. Kenapa? mending tanya Ustadz/dzah yg lebih ngerti deh.... kalu pengalaman pribadi sih, biarpun kita gak kaya, hati tetep adem ...palagi kalo abis bayar zakat mal, duh, rasanya bahagia banget..... Kembali ke soal diatas, ceritanya, karena merasa punya ikatan dengan salah satu instansi, kami menerima order dari mereka. Untuk alasan menerima order dari si A adalah swami lulusan sekolah tersebut sedangkan alasan menerima order dari si B adalah almarhum Bapak PNS di instansi ini dan yang datang ke rumah kami juga kawan-kawan almarhum yang sekarang sudah jadi kepala kantor instansi ini. Kedua order yg kami terima ini berada di satu Departemen yang dari namanya saja image orang pasti "paham halal dan haram". Kami memang sengaja memasang pengumuman bertulisankan "mohon maaf, kami tidak melayani nota kosong/nota fiktif". Tulisan ini ampuh juga saat ada yang meminta kami tinggal meminta untuk membaca tulisan tersebut. Konsekuensinya tidak ada instansi yg bertransaksi di tempat kami tetapi Alloh SWT menggantinya dengan rizki yang lain buktinya kami masih bisa bertahan hidup dari usaha ini dengan 3 pegawai. Sungguh, kami semula menyangka orang2 ini yang paham halal haram, pengkothbah saat shalat Jum'at bisa memahami dan mendukung pengumuman yang kami tulis. Ternyata dengan terus terang Bapak2 ini meminta kesediaan kami untuk memberi nota kosong dengan alasan dana yg turun dari kabupaten sudah dipotong 1o% tetapi laporan harus utuh 100% jadi kekurangan yang 10% itu di akali memakai nota fiktif. Mana mungkin kami mendebat Bapak2 yang alasan memberi order ke kami karena kami adalah keluarga besar Departemen ini? Menurut mereka itu bukan korupsi tetapi sistemnya memang begitu.
Dengan berlinang air mata, kami merelakan stempel toko kami menempel di nota dan kwitansi kosong yang mereka sodorkan. Demi Alloh, uang yang kami terima adalah HAK kami dan yang membuat kami menangis adalah, ibarat kami memberi mereka kunci sebuah rumah yamg mereka bisa masuk dan ambil isinya. Swami sempat berdebat dengan utusan dari instansi tersebut karena kami harus tanda tangan di kwitansi yang tidak sesuai dengan transaksi. Akhirnya kami mengalah dan memohon ampun pada Alloh SWT.
Dulu, almarhum Bapak mengajukan pensiun dini karena tidak tahan dengan cara-cara seperti ini. Menurut alm Bapak hanya keberkahan yang bisa menghasilkan anak-anak sholeh/hah dan menurut alm Bapak cara yang seperti kami ceritakan tidak halal dan hasilnya tidak berkah.
Semoga Alloh SWT mengampuni kami.....

Sabtu, 06 Maret 2010

Ternyata menulis itu tidak semudah bayangan..... harus mood, suasana mendukung, kerjaan beres, dan......my hubby ikhlas....
Sore ini topik pembicaraan kita adalah "usaha es mie". Mungkin karena pengaruh hawa yg panas ya.... Melihat-lihat produk yg kira2 laku ditawarkan, tidak mahal, tidak beresiko tinggi.
Kayaknya es mie cocok dan ternyata di internet produk jelly berbagai bentuk di tawarkan dengan harga terjangkau dan mudah2an sih sesuai standar mutu ya...
Jadi pengen nyoba pesen deh.. Beberapa bulan (apa tahun ya?) di tabloid saji ada info serutan jelly. AKu dah hunting ke toko / supermarket di Purwokerto dan Cilacap kok ga ada ya? Nanya ke pramuniaga juga ga mudeng. Sementara nyoba nyerut pake serutan keju tapi bentuk mie nya kecil2 banget.......