Alhamdulillah, Hidayah Allah akhirnya datang pada kami. Cerita berawal dari meninggal nya orang tua kami (Bapak dari jauzi). Seperti kebiasaan di kampung kami, ada acara tahlilan sampai 7 hari dan di hari ke 7 ada souvenir. Kami selama ini tinggal di kecamatan lain yang masyarakat di lingkungan kami kehidupan beragamanya beragam. Nah, masalah souvenir inilah yang akhirnya membuka lebar2 mata hati kami untuk belajar lebih dalam mengenal manhaj Ahlussunah. Sebenarnya, sejak tahun 2005 kami sudah mengetahui ada ajaran islam yang tidak sama dengan yang selama ini kami jalani, tetapi ya itu tadi, hidayah Allah tidak serta merta datang jika hati kita mengingkarinya. Intensitas kami mencari info makin luas setelah kami berlangganan internet unlimited. berbagai situs baik yang pro maupun kontra kami baca. Dan ternyata butuh waktu yang sangaaaaaaat panjang sampai hidayah itu datang. Kembali ke masalah souvenir itu, akhirnya anak2 yang iuran untuk membeli souvenir berupa sajadah yang sesuai permintaan ahlul bait harus pantas alias bagus agar tidak jadi omongan orang. Kenapa? karena tetangga baru saja di "grundeli" jamaah tahlilan gara-gara sajadahnya jelek padahal mereka harus "kerja keras keluar keringat pegal pegal" ngodoni alias mbayar utang solat si mayit. dari sinilah secara tiba-tiba kami benar benar merasakan kebenaran jalan salafusshalih. Syariat yang di bawa Rasululloh Shalallohu Alaihi Wassallam harusnya menjadi pembeda bagi ibadah orang musyrik, tapi kenyataannya banyak ibadah yang seperti es campur. berwarna warni antara yang benar dan salah. Secara baru mendapat "energi baru" kami sangat semangat berdakwah dengan cara mengkopi kajian-kajian baik audio maupun tulisan dan kami bagikan pada teman-teman kami. Asumsi kami sederhana sekali, mereka masih berada di kubangan bid'ah karena mereka tidak tau jika mereka tau pasti mereka meninggalkannya. Tapi apa hasilnya? "GEGER" dan dahsyat karena melibatkan banyak orang. Ibu (kakek anak kami sudah meninggal semua), adik kandung, paklik, orang-orang yang menganggap kami sesat dan organisasi yang dekat sekali dengan ritual bidah. Ibu bahkan dengan keras mengatakan beliau tidak mengaharap di 40 hari oleh kami, tidak rela tuntunan ibadah yang di ajarkan alm. bapak di salah2kan. Lebih extrem lagi adalah adik laki2 kami yang menjadi Ketua Pemuda Organisasi tertentu. katanya jika kami berani ngaruhngaruhi ibu dan adik maka "bedog" maju alias pertumpahan darah. ternyata, berlanjut dengan di adakannya pertemuan para kyai untuk membahas masalah ini. Bagaimanapun, kami berdua adalah putra putri tokoh organisasi ini. Jadi berita "mbalelo" nya kami menjadi tamparan besar bagi mereka. Menurut info dari teman yang ikut pertemuan tersebut intinya pak kyai ndawuhi agar "PARA ORANG TUA WAJIB MENJAGA AGAR ANAKNYA TIDAK KATUT KELOMPOK YANG KUDUNGNYA BESAR". Tentu saja para orang tua akan manut apa kata kyai nya. dan inipun terjadi pada Simbok (sebutan untuk ibu jauzi). Simbok menganggap kami tersesat dan akan menjadi teroris. Dalam pengajian selapanan yang di ikuti Simbok kyainya berpesan seperti di atas. Akhirnya, kami berdua menyadari bahwa cara kami yang terlalu semangat ini salah besar karena menimbulkan keresahan orang lain terutama orang tua kami. Sekarang setelah berjalan beberapa bulan, kami makin mantap menjalani semua nya. Jauzi ikut kajian offline di hari hari tertentu, kajian online via inet pun tiap hari kami ikuti. Kami tetap akan mendakwahkan manhaj ini pada keluarga kami dengan metode lain yang lebih indah agar mereka simpati. Terimakasih kami ucapkan kepada Radio Rodja yang awalnya sangat kami benci justru menjadi pintu pembuka masuknya hidayah itu, Ustadz Zainal Abidin syamsudin, LC yang gaya kajian nya "kyai banget" jadi mudah di terima kami yg background nya nahdliyin, Ustadz Abdullah Zain yang walaupun kebanyakan "apa" tapi cukup mengena karena bahasanya sami kalih kulo, dan situs-situs ahlussunah yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu. Spesial kami ucapkan terima kasih kepada para ustadz di yayasan sekolah anak kami. Bagaimanapun, dari merekalah kami mengetahui ada islam yang lebih indah selain yang kami ikuti sebelumnya. yang menjadi masalah sekarang adalah bagaimana menjaga hubungan baik dengan keluarga besar yayasan sekolah anak kami. Robbana la tuziq quluubana.....
Alhamdulillah, nikmatnya mendapat hidayah berupa pemahaman Ahlusunnah.
BalasHapusTentu akan sangat lebih nikmat lagi bila Allah subhanahu wataala memberi hidayah berupa Istiqamah diatas manhaj Ahlusunnah dan mati dalam keadaan berpegang teguh diatas sunah dibawah bimbingan ulama Ahlusunnah. Semoga.